Psikologi Massa

20171127-ilustrasi-tawuran_20171127_222407.jpgCitra sepakbola Indonesia kembali dirusak supporternya sendiri dengan meninggalnya seorang Jakmania, Haringga Sirilla, yang dianiaya secara keji oleh beberapa oknum Bobotoh.

Siapa saja yang menonton video penganiayaan itu pasti geram. Banyak yang menulis komentar “A***ng! Ban***t! Beraninya keroyokan!” dan semacamnya.

Mereka tega dan berbuat keji seperti itu memang karena sedang dalam group. Ketika sendirian, sangat mungkin mereka adalah pribadi-pribadi yang sangat berbeda. Bukan karena takut semata, tapi psikologi mereka memang berganti ketika berkelompok. Ini yang disebut dengan fenomena kerumunan massa (mass/crowd phenomenon).

Crowd terbagi dua: audience dan mob. Audience bersifat pasif, sementara mob bersifat aktif dengan aktivitas serempak tapi emosional dan bisa jadi tidak masuk akal sehat. Mob bisa dipicu oleh kemarahan, ketakutan, kesempatan menjarah, atau keinginan menunjukkan eksistensi.

Bagaimana mob bisa memunculkan sifat dan tindakan yang sangat berbeda dari masing-masing individu yang berkerumun itu? Yang demikian terjadi karena pandangan ketika banyak orang melakukan satu hal serupa, maka hal itu tidak mungkin salah. Artinya tiap orang saling membutuhkan keberadaan orang lain untuk mendukung tindakan mereka. Karena itu mob menjadi satu entitas tersendiri. Dalam matematika hal ini disebut juga collective behaviour yang biasanya dimodelkan dengan coupled oscillators (lihat link).

Crowd bisa berdampak negatif, bisa juga positif. Kejadian supporter Bobotoh tentu saja crowd yang negatif.

Perintah Nabi Yakub kepada anak-anaknya untuk memasuki Mesir dari pintu gerbang yang berbeda-beda [QS Yusuf 67] ditafsirkan ulama agar mereka terhindar dari penyakit ‘ain (penyakit karena pandangan mata takjub atau iri dengki orang lain). Menurut tafsir saya, perintah itu adalah upaya memecah mereka untuk menghindari efek negatif crowd, baik crowd mereka sendiri sebagai sesama saudara maupun crowd¬†sebagian penduduk Mesir. Mereka dulu sepakat membuang Yusuf ke dalam sumur tua juga sebagai crowd (mob).

Crowd yang positif akan muncul dengan berkumpul bersama orang-orang yang baik. Saya membayangkan suatu saat supporter Indonesia akan dikenal dunia sebagaimana supporter Irlandia yang menyuarakan pembebasan Palestina, atau supporter Jepang yang membersihkan gelora, atau supporter yang menjadikan stadion bergema oleh shalawat a la NU.

Kalau tetap tidak bisa, ya dipecah saja. Seperti saudara-saudara Nabi Yusuf itu.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s